Posts

Showing posts from October, 2018

Prili V

Purnama ini lepas akan kata pustaka Rintik menjadi teman hujan akan jam tanganku Isyaratkan nasib membelai mesra kata tiada Lumpuh kan   gelap,atau tentang kota menjadi kosong Ikhtiar ini atas jiwa mu tertidur atas sebuah kolong Aku kembali pada potret mu dilorong-lorong

Prili IV

Aku ceritakan ini atas sebuah akhir Atau tentang 10 hari engkau bersetubuh lara Atau tentang lelaki penuh kesombongan menjadi angkuh Atas mu Prili di persimpangan teater Engkau terbungkus melawan garis tangan bertajuk tuan Atau tentang angin mehembus begitu dekat Dimanakah lelaki tanpa sebut itu Saat sukma mu mulai menghadap Engkau terlantarkan akan cinta Ia mabuk di persimpangan teater Merajut jalan akan kepuasan diri Engkau terdampar akan garis dan cinta Engkau kembali pada tahta yang bertuan Tanpa sehelai kata di balik ke-semuan mu Ia baru tiba setelah engkau terbiasa menerima tiba 10 hari setalah engkau menjadi basah. Tanah mu menjadi kering Atau tentang bunga menjadi layu Laki-laki pemabuk disimpang teater menahan isak bermandi luka Menikmati waktu menunggu kereta pagi Menuju tanahmu atas parlingnya akan makna cinta Ditanah mu tak ia temukan wajahmu menjadi cantik Tak ia temukan tubuh mu tempat ia mengadu rindu Hanya bi...

Prili III

Bagian   mana   yang paling dikau sukai akan kita , ambillah Keong ini sudah kehilangan rumahnya Ia terjebak akan peti di keramaian atas kerumunan Ia pula tertidur pulas dengan segala bentuk   wajahmu Bagian mana yang paling dikau sukai akan kita, ambillah Ia tak memiliki tempat untuk berteduh Ia tak punya rasa untuk menitih jalan Lalu ia mulai merapuh di balik segala bentuk senja Bagian   mana   yang paling   dikau sukai akan kita, ambillah Aku sudah lupa bagiamana cara m embasuh wajah ku

Prili II

Dengan sastra rinaimu menjadi hanga Sinar kecil dan keabadian menjadi lembut Kata rindu dan kebisingan hati menjadi begitu mesra Seakan kenang masuk merobek-merobek kebisuan akan kita Dengan sastra ampas kopi ini menjadi nikmat Aliran debu sertakan kemusafiranku menjadi begitu hikmat Atau juga keberpalinganmu menjadi dekat Atau juga tentang kesendirian meluapkan kata larat Dengan sastra kecamukku tetap menjadi kuat Menelusuri jalan setapak akan kata menjadi hakikat Tentang mu menumbuhkan ladang kecemburuan akan semesta Tentang mu menumbuhkan setumpuk berkas tentang keusangan rindu Dan kamu menjadi puitis sekali untuk di sebut.

Prili I

Telah kuputuskan akan sembilu Tanah dan hati bukan lagi sama Lara dan duka biarlah menjadi raut sukma Liriknya menjadi hantuku Tak ada malikat hari ini Biarkan aku bersetubuh jenuh dan sendu Biarkan duka ini menjadi muak Biarkan semua biasa kan murka Aku bukan sajadah lagi Tulang benulang telah menjadi rongsok Dan kau tetaplah menjadi pelangi