Puisi Antologi





PEREMPUAN

Perempuan....
kau dan aku dipertemukan waktu
kau ucap,itu hanya kebetulan
hingga tak banyak yang terucap dan terurai
hanya angan-angandatang dan hilang
Perempuanku......
kau dan aku dipertemukan waktu
kau ucap,itu hanya kebetulan
lambat jalanku ada sisa-sisa bekas telapakmu membekas
lalu, apakah kamu akan itu ?
Masih perempuan itu.....
kau dan aku telah memutar waktu
kau ucap, aku punya senyum indah : aku tersenyum sedikit, menatap mataku.
kamu terindah perempuanku.
Perempuan...
aku kembali kewaktuku
ku berikan , aku kewaktu itu
kita dipertemukan waktu : kau mengerti itu.
aku tahu, tentang mu dan suara sedu sedan mu memanggil.
diperkarangan jatinagor kemarin dinda.
Perempuan...
aku kembali kewktu itu. Nanti.









LOSS LOVE
Desir angin, perangkap perlahan merengut tubuh
perlahan tergenang dalam larutan merah , tanpa suara mu
dan desir itu, menusuk kulit lembut tak berdosa
dan ia , gelombang laut sibuk dengan caranya
Bahkan teriakan ku tak ia jawab !
ia hiraukan , ribuaan jeritan tubuh berkumandang.
Kubakar lagi rokok penenang jiwa
wisky pelibur lara
Terserah....
setan bernyanyi
bersemayan : dalam tubuh
Lupakan dikau, sejenakdiawanku
















TENTANG DINDA
Sederet keindahan membentang disini
tepat dibawah ku sedang membentangkan tangan
mentari diujung sana, mulai meredup menatapku
pelangi melipat baju, bergegas berlalu
Seribu tanya masih membekas dan pilu
menatap hampa, melemparkan jerit pada ujung langit sana
ini tentang mu yang telah berlalu
mengaduk hati, lalu bersetubuh akan pekat malam
Heyy.............
masih wajarkah, aku memaki cinta?
melemparkan pecahan kaca yang berajar
mengelupas kulit-kulit pertahun.
Sebenarnya  in masih sama
 sepreti suara jam dinding berdetak sayang
semakin lama, suara itu mencekam
apakah masih sama, saat itu dan sekarang ?
Kubakarkan rokok kuhempuskan asap
sementara, kubercinta dengan mu dlam kabut asap ini
merdekan kan ku, atas kekalahan rindu
memecahkan karang , diujung kata” aku terkelam dinda”
Aku sekarang terduduk dibawah rogga langit
harap detak-detak langkah asing menyapa
dari sore , terasa keindahan berjajar mesra
disebelah ini kamu memakan es krim dinda.
Aku Evan saputra, masih bersetubuh kegelapan
menati purnama, memutar kehidupan
bukankah jadwalnya malam ini kau manggung
apakah kau dan aku sama dibanjiri kehujanan, berhenti lalu gersang.





KAWAN
Coretan perpisahan SMA
Kawan...
berlalu semua kisah teruraikan
dari tunas samapai daun kedahan-dahan : yang kokoh
perlahan, berjatuhan berserakan
Kawan....
seberapa detik lagi, kita akan merangkak menjauhi kota kecil ini
kota kecil, terbangun menjadi indah
harus bernuansa nyanyian sendu
aku , kamu dan semua, menyeret langkah berbalik dari ini dan pergi.
Kawan...
saku air mata itu
simpan untuk
empat (4) tahun kedepan
 kawan shittttt.....
kita nggak salah, kita berpisah dipaksa.














KOTA INI ( JAKARTA)
Berserakan pecahan gelas, bersetubuh dengan telapak kaki
tinggal sedetak jantung yang kutelan
pada sang malam tak betuan
Aku yatim disini, meratapi bui lautan kian detik membukusku
melemparku, berdiri lalu terbawa arus pada bumi
apa harus kuberlari, lalu terjatuh dan menutup mataku..?
Apa salah, suaraku yang berderuh membukus dingin malam
adakah pintu, untuk ku ketuk dan terbuka
selain pintumu dan pintu mereka
apa taka da lagi, memandang darah sama merah
 apa tak ada lagi ? beri yang ada.
Achhh........
sukma telah lelah berbasa-basi
membuka jendela lalu berkemas dan pergi
sang surya memelukku erat , lalu pasti.
Mati adalah mimpi.













GURUKU, ( Dongeng Kecil )
Jam 11:10 mengikat dlam neraka
membawaku dalam wahana mimpi surga
mata 5 watttak mampu,
bicara
mendengar
mataku hilang kubuntang hidup
persetan dengan mu
persetan dengan ajaranmu
ngantukku diujung rambut
Kulelap, selamat tinggal ocehan-mu.


















SYAIR UNTUKMU
Di atasa kertaskulemburkan api
kubakar pai dan kubakar lagi
itu ku arsirkan
Tuhan...
aku buta, aku ingin diperut cipta mu
hentikan bait-baitku
aku lelah.
Tuhan..
mari jemputku, kita bersetubuh
ohhh tidakkkkk..
aku virus mu.
Tuhan...
sudahi kaca di wajah ini
lemparka saja baja tepat dipundakku.















Perempuan ku
Mungkin kita lelah dengan ini
bersuara menabur benih-benih kepedihaan
caci-maki
maju-mundur kita begini
Perempuaku
lihat petanah hati mulai tersadar
terbaring lemah, dibalik daun gersang
kita dulu, tegak , rentak, lalu berdahan
Perempuanku
bila bulan rindu bintang nya
tanya kan mentari, rindukah siangnya. : aku disana perempuanku

















Jerit Malam
Dri balik dauan kering
kami bertutur dengan nasi segenggam
tanaman hilang, kami bertentang
berselimut malam.
Dari balik daun kering
kami sudah terbiasa terbaring bersetubuh bumi rentah
mencari suara keras terbatas
kami diatas kertas
Dari balik daun kering
kami terbiasa atas badan telanjang kering
kurus, lalu berambut kerinting
pada siapa kami mengadu, kami hanya ranting-ranting
Dari balik daun kering
lelah air mata jadi air minum
kami bosan
bebaskan ikatan suara berbau rintih
Ari balik daun kering
kami kobarkan duan kering
daun kering membakar, berkobar
kami berkoar, tenggoklah wahai jakar
 Masih dari balik daun kering
kami harus kejalan
tumpaskan papan-papan
tenggoklah kami wahi kegelapan
Dari balik daun berserakan.







Kamu
Dimana aku harus cari wajahmu
telapak kaki mu tlah ku kejar dan jauh
achhh...
aku mulai menjelma menjadi jam
perlahan –perlahan abis dan mati
itu aku: harus kau sadari.
Sirami air dikepalaku






Comments